Press Release
Indonesia Memiliki Produsen Velg Aftermarket Berstandar Internasional!
Dibuat dengan mesin-mesin canggih dengan standar produksi yang memenuhi regulasi mutu internasional, setiap tahun PAKO GROUP memproduksi 2 juta velg guna memenuhi kebutuhan OEM dan aftermarket di dalam dan luar negeri

PAKO GROUP yang merupakan produsen velg merek lokal asli Indonesia mengundang tim National Modificator & Aftermarket Association (NMAA) dan YouTuber Garasi Drift ke pabriknya di Karawang Timur, Jawa Barat. PAKO GROUP menaungi beberapa perusahaan yang fokus memproduksi velg alloy dan steel (kaleng) untuk kebutuhan mobil penumpang, sepeda motor, serta bus dan truk untuk pasar lokal maupun ekspor.
Perusahaan velg ini sudah berjalan sejak 1974 dengan fokus utamanya adalah memenuhi kebutuhan velg OEM (Original Equipment Manufacturer) ke beberapa agen pemegang merek mobil di Tanah Air, di antaranya Toyota, Daihatsu, Isuzu, Mitsubishi, Honda, dan juga Lexus. Didukung dengan standar mutu tinggi, mesin-mesin canggih, bahan baku pilihan, serta SDM berkualitas, membuat PAKO GROUP juga dipercaya menjadi suplier velg OEM ke beberapa produsen mobil di Jepang, Jerman, Hungaria, Malaysia, dan Thailand.
“Standar kualitas produk kita cukup tinggi dan memenuhi standar mutu produk velg di beberapa negara karena itu produk kita dipakai beberapa prinsipal mobil di luar negeri. Bahkan OZ Racing sempat membuat salah satu lineup velgnya di pabrik kami,” ujar Davy Kurnia, Senior General Manager Marketing and R&D Styling Design Department PAKO GROUP.
Proses pembuatan velg di pabrik PAKO GROUP dilakukan secara efisien baik untuk velg alloy maupun steel. Untuk membuat 1 buah velg alloy dari bahan mentah sampai jadi dibutuhkan sekurangnya 2 hari pengerjaan. “Proses yang paling lama adalah pemanasan velg alloy yang sudah terbentuk untuk menguatkan struktur dalamnya, karena kurang-lebih dibutuhkan 8 jam untuk benar-benar membuat velg menjadi solid,” ujar Yeremia Dwi, selaku Marketing Departement Head PAKO GROUP.
Dengan metode low pressure casting dalam mencetak velg alloy, pabrik PAKO GROUP bisa menghasilkan velg cetak mentah setiap 60 detik. Sebelum bisa digunakan, velg mentah ini harus melalui beberapa tahapan seperti misalnya melubangi PCD dan pentil, proses x-ray untuk melihat struktur dalam velg, pemanasan, pengecatan, serta pemotongan di mesin CNC untuk mendapatkan aksen diamond cut finishing.
Prosesnya tersebut sedikit berbeda dengan velg steel. Bahan baku berupa lempengan besi (koil) dibentuk dengan cara ditekan. Secara paralel lempengan yang membentuk rim (lingkar velg) dan dish (face) dikerjakan dalam lining dan mesin yang berbeda. Lalu disatukan dengan cara dilas oleh robot, setelah sebelumnya dilihat titik paling seimbang dan ideal untuk pengelasan. Baru selanjutnya dimasukkan ke proses pewarnaan dengan sistem electro plating agar warna tak mudah pudar dan terkelupas.
“Saat ini kami memproduksi 2 juta velg per tahun, baik untuk OEM dan aftermarket. Untuk aftermarket kami memang baru fokus 5 tahun belakangan dengan menjual 5 merek yang berbeda. Untuk alloy ada Fortis dan Pako, sementara steel ada merek Avantech, AVT, dan Inko. Meski kami bisa memproduksi hingga ukuran 20 inci, namun saat ini yang dipasarkan adalah diameter 15-18 inci,” kata Davy.
Menariknya, karena sudah memiliki pengalaman dalam memproduksi velg dengan standar mutu OEM, maka hal tersebut diterapkan dalam mengembangkan velg aftermarket. Dimulai dari riset pasar untuk mencari tahu apa yang diinginkan konsumen, selanjutnya dituangkan ke dalam desain mentah dan 3D, lantas dilakukan pengujian dengan bantuan software khusus, membuat prototype wheel, dan diuji kembali di lab khusus untuk mengetahui kekuatannya dalam kondisi ideal pemakaian. Artinya velg aftermarket PAKO GROUP tak sekadar menjual desain semata.
Sebagai produsen velg berpengalaman, PAKO GROUP tak sekadar membuat velg dengan desain yang dibawa klien, namun juga memiliki divisi desain dan R&D, termasuk bagian yang membuat cetakan velg sendiri. “Kami berusaha memberdayakan desainer velg lokal yang karya-karyanya tak kalah dengan desainer luar negeri. Bahkan beberapa prinsipal mobil menggunakan velg hasil karya desainer kami,” bilang Davy lagi.
Saat ini terdapat 12 model velg Fortis yang fokusnya ke mobil-mobil perkotaan dengan gaya elegan. Sementara itu terdapat 3 model velg Pako yang mengarah ke offroad style dengan beadlock. Untuk lini velg kaleng terdapat 9 model yang memakai merek Avantech, 1 model untuk merek AVT, dan 4 pilihan model untuk merek Inko.
Rencananya PAKO GROUP akan membawa sejumlah velg prototipe pada Indonesia Modification Expo (IMX) 2020 yang akan dihelat pada 10-11 Oktober mendatang di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Selain itu beberapa lineup velg buatan PAKO GROUP juga bakal dijual untuk para pengunjung IMX nanti.
“Terus terang saya baru tahu kalau banyak velg-velg OEM yang biasa dipakai mobil-mobil di sini dan di luar negeri ternyata bikinan pabrik Indonesia. Lebih kerennya di pabriknya yang besar ini mereka bisa bikin velg aftermarket juga yang kualitasnya setara OEM. Keren!” tutup Ziko Harnadi dari Garasi Drift.
================================================================
Tentang NMAA
National Modificator & Aftermarket Association (NMAA) adalah asosiasi modifikasi pertama dan terbesar di Indonesia. NMAA adalah adalah pelopor yang menyatukan 3 pilar industri otomotif, yakni APM (Agen Pemegang Merek) kendaraan, aftermarket, serta modifikator dan komunitasnya.
NMAA berdiri sejak 24 Maret 2016, lewat kick-off perdana yang dihadiri para pecinta modifikasi dari seluruh Indonesia. Sebagai asosiasi modifikasi, NMAA memiliki tujuan untuk membawa industri kreatif modifikasi Indonesia naik ke level yang lebih tinggi dan diperhitungkan dunia internasional.
Selain menyuarakan visi-misi yang sama lewat beragam kegiatan yang didukung ahli-ahli berpengalaman, NMAA juga mencetak regulasi dan juri-juri kontes modifikasi berstandar tinggi. Termasuk menyediakan wadah edukasi terhadap industri, tren, dan prinsip teknis modifikasi serta aftermarket.






